Masih ingatkah anda dengan cerita nahkoda kapal bajak laut yang mau belajar insyaf pada judul IMPROVISASI TANPA INTROSPEKSI?
Hari esoknya saya berniat menemui dia tapi tidak saya temukan ,hanya tinggal beberapa anak buahnya yang sedang bingung karena katanya kapal yang rusak itu mau tenggelam.
Terus saya tanyakan “om nahkodanya dimana”?
“Pak nahkoda sudah pergi dengan membawa sebagian harta rampasan kami” kata seorang awak buah kapal yang kelihatan menyimpan amarah.
“Oh, kenapa dia pergi? Bukankah kemarin dia berniat memperbaiki kapal ini” tanya saya.
“Dia telah tabrak lari” jawab seorang anak buahnya
“Emang dia naik motor, apa mobil? Dan siapa yang ditabrak” Tanya saya lagi.
"Bukan ,maksudnya kapal ini. Kapal ini telah dibawanya menabrak karang hingga akhirnya mau tenggelam,eh malah dia lari tanpa bertanggungjawab” sambung awak buah kapal tadi.
“Oh ,begitu toh! Iya yah dia tabrak lari,tapi
Semua tertawa terbahak-bahak.
“Karangnya sih gak masalah, masalahnya banyak awak buah kapal yang jadi menderita akibat kecelakaan tersebut” jawab seorang awak yang sepertinya sudah sedikit dewasa.
Senin, 17 Maret 2008
Tabrak Lari
Kamis, 13 Maret 2008
Sebab Akibat
PENTING! Sebelum membaca artikel ini pastikan anda adalah orang yang profesional dan mau mengakui kebenaran.
Permasalahan PT. KEL Indonesia sangatlah komplek, akibat dari komplikasi dari berbagai masalah dan menjadikan kondisi yang terasa kondusif menjadi semerawut.
Mungkin dalam pelajaran Bahasa Indonesia anda pernah mengenal istilah sebab akibat, sebab dulu apa akibat dulu? kalau dalam pembahasan bersama antara GOBLOKER dengan NONGKRONGGERRR yang diikuti pula oleh tokoh agama garis halus dan lembut mengambil kesimpulan bahwa “suatu akibat yang disebabkan”.
Terus disebabkan oleh apa? Kami memutuskan bahwa awal mulanya adalah titik awal atau pangkal permasalahan yang harus dicari!
Mungkin kalau pakai diagram tulang ikan bisa digambarkan, tapi kita coba uraikan:
1. Faktor Manusia.
Apakah kita harus menyalahkan karyawan yang tidak berprestasi? Tentu ada sisi manusiawinya.dan yang jelas adalah cara perekrutan. Disini HRD (Human Resource Divisions) bekerja tidak maksimal dalam mengontrol karyawannya baik segi potensi, kemampuan dan karakter (psikologis).
Mungkin kita bertanya betapa sulitnya masuk kerja di perusahaan selevel ASTRA GROUP,BRIDGESTONE dkk,bahkan untuk jadi pembantu aja minimal D3 Pariwisata contoh Pembantu rumah tangga kepresidenan.Karena perusahaan sebesar itu dengan HRD yang handal dan profesional menginginkan karyawannya berkompetisi secara sehat dan tidak ragu memberikan penghargaan dan tidak takut tersaingi.Akhirnya apa? Di PT. KEL untuk mempromosikan saja susah karena takut dianggap menggagalkan program cost down.
Ditambah lagi pesuruh-pesuruh para ex-patriat tidak bekerja sebagai filter melainkan sebagai algojo, bahasa jadulnya mah ABS (Asal Bapak Senang).
2. Faktor Alam
Kenapa kami menyebut faktor alam , karena PT. KEL memerlukan sumber daya alam untuk terlaksananya proses produksi baik itu energi,logam,air dll.
Tentunya sangat menarik sekali dengan apa yang namanya FEE dimana akan menambah devisa pribadi kita apabila berhasil meloloskan perusahaan kontributor,ditambah lagi harga yang selangit yang membuat air liur mengalir tidak terasa.
3. Faktor Sistem
Sistem yang berjalan kadang bersifat temporer,tidak berjalan konsisten dan konsekuensi yang pandang bulu
Dengan adanya program cost down yang tujuannya sangatlah mulia tapi disini punya julukan khusus yaitu cost down under thinking.kenapa kami bilang demikian,karena costdown yang dicanangkan sangatlah merugikan dengan jangka waktu yang bervariasi diantaranya :
a. Status karyawan : muncul kecemburuan sosial dengan perbedaan yang mendasar akibat adanya ketidakadilan pengupahan dengan porsi pekerjaan yang tidak seimbang dan menjadikan yang terdzolimi tidak pernah berdo’a untuk kebaikan PT. KEL
b. Perawatan dan Penerapan pada mesin : Tertunda dan susah setengah mati untuk proses perbaikan dengan alasan mahal, hingga akhirnya masalah besar menghampiri baru tersadar serta ditambah penggunaan material termurah dan akibatnya menggagalkan acara “Tingkatkan Kualitas”.ketika orang lain sibuk dengan kualitas terbagusnya PT.KEL masih berkutat pada pesta cost down.
c. Terakhir semua serba cost down mengakibatkan semua kesulitan dan timbul perasaan saling curiga “ jangan-jangan dibawa pulang nih”
Kami kira cukup itu dulu dan akan kami tambahkan apabila ditemukan faktor lainnya ,karena untuk apa ? Untuk kebaikan PT. KEL itu sendiri yang sangat kami cintai.
Bagi yang merasa benci kepada penulis kami pikir anda lebih baik bekerja di terminal,bagi yang mau berkomentar terbuka dan bebas.
Selasa, 11 Maret 2008
PUK bukan hanya unjuk gusi
Lagi-lagi PUK menggalang masyarakatnya untuk menolak kebijakan pemerintah PT. KEL yang meyetujui keinginan warga dengan syarat yang cukup berat. “Harus Profit apabila tuntutan PUK mau disetujui “
Dibalik itu menurut pendapat saya ada unsur politik,yaitu program “cost down under thinking”
Sekarang kita kembalikan pada pola pikir yang cukup sederhana.Memang selama ini karyawan tidak berusaha agar perusahaan ini profit???
Saya yakin 200 % semua menginginkan perusahaan maju dan mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya, tapi sebuah profit dan menjadikan label bonafide hanya cita-cita belaka dan kerja sia-sia tanpa didukung infrastruktur yang memadai.
Aneh benar-benar aneh??? Bagaimana seorang tukang gorengan bisa laku apabila gerobaknya kotor dan rusak,wajan sudah berkarat,minyaknya tidak ganti-ganti,bungkusnya gak tau dapet darimana ditambah penjualnya judes dan jarang mandi.Sederhana
Saya dulu sempat menyinggung masalah Inovasi, bahkan SUZUKI punya motto “inovasi tiada henti”.apa sih artinya?
Inovasi dalam ilmu lingusitik adalah fenomena munculnya perubahan baru dan bukan perubahan warisan. Inovasi berbeda dengan neologisme. Inovasi bersifat 'tidak sengaja'.,maksudnya Sebuah perusahaan yang berinovasi tidak akan pernah berhenti memperbaiki dan mencari hal-hal baru yang lebih baik,bukan membodohi , Kalo bahasa gaulnya “beli tai jual emas”,tapi selalu mencari emas-emas baru yang lebih baik.
Bersambung