Senin, 18 Februari 2008

IMPROVISASI TANPA INTROSPEKSI

Suatu hari saya ngobrol dengan nahkoda kapal bajak laut. Dia berbicara bahwa dia akan belajar insyaf atau apa cuma pura-pura insyaf. Dia bercerita banyak tentang anak buah dan koleganya yang telah sukses dengan kerja mereka sebagai bajak laut. Dan masih ada pula yang masih melakukan kejahatan-kejahatan . tapi kata nahkoda itu “ oh itu tidak apa-apa , dia teman dekat saya dan kami sering berbagi, nasehat saya cuma berlaku buat orang-orang yang tidak dekat sama saya saja kok”. Sambil dengan bangganya memperlihatkan pedang yang dipegangnya.
Terus saya bertanya “ Apakah ki bajak laut begitu saja insyaf dengan mudahnya melupakan masa lalu?”
Dia menjawab “ Oh iya yang lalu biarlah berlalu , kita lupakan saja yang penting sekarang kita berubah”.
Terus saya bertanya lagi” Kenapa ki bajak laut mau insyaf?”
Dia menjawab dengan suara tersendat-sendat dan berbisik “ Karena kapal ini sudah mulai tua, sudah saatnya kita memperbaikinya, serta membuat skenario seolah-olah perbaikan selalu dilakukan dari dulu”
“Oh begitu toh” kata seorang anak buahnya sambil menjilat pantat sang nahkoda.
Dan nahkoda berkata “ kamu nanti akan saya perjuangkan jadi kepala juru masak, walaupun sebenarnya kamu tidak becus masak” kepada anak buahnya tadi.

"Om bajak laut ,kenapa sih masalah memperbaiki baru terpikir sekarang" tanya saya.
"Kamu ini???! tadi manggil ki sekarang manggil om yang jelas dong! " dengan nada membentak dan menempelkan pedangnya di leher saya.
"Maaf nyet" kata saya dengan gemetaran.
"Nah gitu dong yang sopan, ya itulah ciri bajak laut segala perbaikan baru dilakukan setelah terasa akan datang kehancuran" jawabnya dengan lantang.
" Terus kenapa bajak laut itu selalu identik dengan kejahatan " tanya saya lagi.
"Ya jelas dong, di perguruan ilmu hitam saya dulu saya tidak diajarkan mempelajari karakter orang jadi saya hanya tau siapa yang lebih pandai membersihkan kotoran yang ada di badan saya, dengan dijilatlah dkk"jawab sang nahkoda.
"Emang dulu anak buah om bajak dapet darimana" tanya saya lagi.
"Oh ada yang dari terminal, jalan-jalan,semak-semak dll, cuma yang gak ada dari pesantren aja, ntar malah nyaingin saya"jawabnya.

Nyambung lagi.

Tidak ada komentar: